Sunday, January 21, 2018

Research Workshop..

Perjalanan ini panjang dan sulit.

Laqad khalaqnal insana fil kabad (Surah Balad: ayat 4)

Sesungguhnya kami jadikan manusia sentiasa dalam perjuangan yang sukar. Ianya adalah satu ungkapan sumpah. Bak kata Assyahid Syed Qutb dalam mengungkapkan ayat ini, manusia melalui kesulitan demi kesulitan, kepenatan demi kepenatan, perjuangan demi perjuangan.

Ada rasa penat yang singgah. Ada pilihan kursus-kursus lain yang lebih menarik. Ada cardiology update, stroke course juga. Namun hati memilih untuk datang ke program ini. Untuk mencari setitis kekuatan untuk meneruskan hari-hari yang mendatang.

Terasa kerdil dan kecil. Terlalu banyak kekurangan diri. Namun penting saya rasakan untuk bertemu mereka, untuk memperbaiki diri, memuhasabah dan merefleksi. Mungkin saya tak layak untuk duduk di celahan itu dengan kekurangan diri yang menggunung, namun saya paksakan diri untuk bertemu orang baik demi membaiki diri.

Jujurnya ada beberapa correction yang perlu dibuat pada research proposal. Ada beberapa case report juga yang perlu ditulis. Namun seakan tiada kekuatan untuk membukanya semula. Seakan tak tahu apa yang sedang dilakukan.

Bila hadir di sini, baru terasa betapa besarnya pahala atau amal membuat research dan menulis case report dan lainnya. Rupanya menulis berlama lama semuanya pahala andai niatnya benar.

Prof Fauzi memberi contoh. Isu buang anak luar nikah. Hati kita numb dengan isu ini sedang ia terus berlaku. Kita asyik berceramah, “Islam cakap macam ini.. Islam cakap macam itu...”. Islam bukan kitab. Islam mewarnai masyarakat. Bagaimana? Dengan research. Mengkaji permasalahan. Mencipta solusi. Research yang kita lakukan adalah demi ummah, mancari formula membaiki ummah, membawa rahmat.

Prof Fauzi juga memberi contoh tentang etika di dalam research. Authorship misalnya. Tanpa sebarang sumbangan, kita minta diletakkan nama. Ianya adalah salah. Seorang yang ihsan dengan Allah, tak melakukan hal sebegitu.

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Di sini saya belajar memaknai hadis ini. Butir-butir bicara Prof Har sangat menjentik hati. Menurut ayahnya, menjadi guru adalah sebuah kekayaan. Ketiga-tiga perkara yang disebut di dalam hadis itu dapat diraih oleh seorang guru.

Diceritakan kisah saat pegawai perubatan di bawah seliannya mengirim mesej ketika dia makan.  Doktor tersebut melihat kes shoulder dystocia dan mempraktiskan segala tunjuk ajar Prof Har. Saat doktor tersebut berdepan dengan kes shoulder dystocia, terbayang sosok Prof Har mengajarnya dan dia mempraktiskannya.

Menurut Prof Har, insya Allah ketika makan juga pahala masih mengalir. Dan dia berharap, begitulah hari-hari di alam barzakh kelak. Amal-amal di dunia akan datang sebegitu. Itulah kekayaan sebenar yang kita bawa bertemu Allah. Mungkin duit tak banyak, tapi kaya hati, kaya doa dan amal.
Dan saya masih bermujahadah belajar.

No comments:

There was an error in this gadget