Sunday, January 31, 2021

Hamim...

Lagi lama perjalanan kehidupan, saya terkesan dengan manusia-manusia yang hadir di dalam kehidupan saya.


Terkadang sahabat akrab yang hadir, bukanlah mereka yang sama berjuang di jalan dakwah dan tarbiah. Mereka yang biasa-biasa namun ternyata membela saya ketika terjadi beberapa ujian dan musibah. Saya sangat menghargai persahabatan dengan mereka. 


Melalui mereka, saya belajar erti persahabatan. Membela kebenaran ketika diperlukan.


Semalam saya mentadabbur satu ayat yang sangat mengesankan saya di dalam Surah Maarij berkenaan persahabatan. 


وَلا يَسأَلُ حَميمٌ حَميمًا


Dan sahabat karib tidak bertanyakan hal sahabat karibnya, (kerana tiap-tiap seorang sibuk memikirkan hal keadaannya sendiri) (Surah Maarij: ayat 10)


Taajub bila Allah menggambarkan persahabatan tersebut dengan istilah ‘hamim’.

Hamim merujuk pada sesuatu yang panas menggelegak. 


Saya pernah bertemu sahabat sebegitu. Yang ‘menggelegak’ bila saya diuji dengan sesuatu. Dia pasti membela saya saat saya ‘dibantai’ dengan hebat. Persahabatan yang tulus yang mungkin melebihi hubungan darah daging sendiri. Menurut sahabat saya ini, dia hanya memperjuangkan kebenaran. Begitulah persahabatan. 


Namun saya terkesan dengan gambaran kiamat. Di hari itu, tiada siapa pun di sisi. Hatta sahabat yang sebegitu akrab juga tiada. 


Yang ada hanya saya bersendirian. Yang ada hanya amal yang akan berbicara. Malah sambungan ayat-ayat dari Surah Maarij tersebut sangat mengerikan. Lantas saya pesan pada diri, berusahalah sehabis baik untuk hari akhir.