Tuesday, July 24, 2012

Malam...

Saya telah melalui dua malam di dalam Ramadhan sebagai house officer. Non stop admission. Non stop ambil darah. Non stop cucuk brannula. Doa juga jauh dari khusyuk. Jeles sangat tengok orang lain. Terkadang ternya-tanya, benar-benarkah hati ini merasai roh Ramadhan? Dulu terkejar-kejar nak dapat berjemaah subuh dan isya' dalam Ramadhan sebab solat subuh jemaah dapat separuh qiam, isya' jemaah separuh qiam lagi. Kalau dapat subuh dan isya' jemaah, seolah-olah mendirikan qiam sepanjang malam. Tapi kini...hmm...Allah lebih tahu! Tapi saya berpesan dengan diri, "Afeera! Ini juga pahala!".

Teringat dulu di matrikulasi, serasanya saya mahu mengambil bidang sains sosial. Tapi Allah temukan saya dengan seorang doktor yang kelak menjadi professor saya di universiti. Dia bercerita mengenai kisah seorang pelacur yang diampunkan dosanya oleh Allah, dibukakan pintu syurga dan Allah berterima kasih padanya kerana memberi minum seekor anjing. Katanya, ganjaran yang begitu besar kerana ehsan kepada haiwan, apatah lagi doktor yang merawat manusia yang merupakan sebaik-baik kejadian Allah. Pastinya ganjaran yang menanti adalah lebih besar. Setiap kali seorang doktor bertemu pesakit, dia akan mendapat peluang diampunkan dosanya oleh Allah, dibukakan pintu syurga buatnya dan Allah berterima kasih padanya. Pahala yang berlipat ganda menanti seorang doktor yang bekerja ikhlas kerana Allah.

Saya terkesan ketika itu saat dia memberitahu bahawa kerjaya ini diiktiraf oleh Allah di dalam Al Quran– “..Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya..” (AlMaidah :32) Pekerjaan ini sememangnya menjanjikan pahala yang lumayan buat mereka yang benar-benar mahukannya.

Dan untuk Ramadhan ini, saya pesan pada diri saya hadis-hadis ini

Sabda Rasulullah SAW: “Sesiapa yang menziarahi saudara se-Islamnya yang sakit, seolah-olah dia berada dalam ‘Kharfah’ sehinggalah dia pulang.” Baginda ditanya: “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan ‘Kharfah’ itu?” Rasulullah saw bersabda: “Iaitu kebun di syurga (yang penuh dengan buah-buahan yang boleh dipetik pada bila-bila masa)”. [HR Muslim]

Daripada Ali ra, bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tiada seorang pun yang menziarahi saudara se-Islamnya yang sakit pada waktu pagi, melainkan 70,000 malaikat mendoakannya untuk mendapat rahmat sehingga ke petang. Sekiranya dia menziarahi saudaranya pada waktu petang, maka 70,000 malaikat mendoakannya untuk mendapat rahmat Allah sehingga ke pagi. Dia juga akan mendapat nikmat berupa buah-buahan syurga yang boleh dipetik pada bila-bila masa.” [HR At-Tirmizi: Hasan]


Kalau orang lain ternanti-nanti malam AlQadar untuk diziarahi malaikat, Allah berikan peluang untuk seorang doktor merasainya sepanjang masa. Adakalanya saya gugur juga. Adakalanya saya hilang sabar juga. Kita benar-benar bermujahadah kan? Saya akan mula tagging di NICU Khamis ini. Moga Allah memudahkan segalanya. Moga Allah mengurniakan hati dan kesabaran yang luar biasa dalam menghadapi hari-hari yang mendatang.

Friday, July 20, 2012

Hadid...

Seringkali saya menanti-nanti saat untuk berprogram bersama-sama. Terasa nikmat bila dapat mentadabbur Quran bersama. Sangat indah bila bertemu mata dengan akhawat.

Semalam seorang akak yang terlalu saya kagumi di atas jalan dakwah dan tarbiah ini berkongsi tentang surah Hadid. Diceritakan pada kami muqaddimah ayat-ayatnya yang sangat mengkagumkan. Keagungan Allah yang luar biasa. Diajarkan pada kami seruan Assyahid Syed Qutb yang mengajak untuk berkelana dan mengembara bersama setiap ayat yang menceritakan keagungan ciptaan Allah. Allahu Akbar..kami mengembara ke Everest dan melihat ciptaanNya dari puncak Everest, kami mengembara melihat kejadian siang dan malam, kami mengembara melihat pucuk-pucuk pokok yang bertunas.. Masya Allah! Kami merasainya dengan hati-hati kami! Setiap ayat seakan getaran yang sangat mengasyikkan! Nikmatnya tarbiah yang mengajarkan kami AlQuran sebegitu rupa...

Di saat Allah menceritakan keagungannya ciptaanNya yang mengasyikkan, kami terpana! Dan dia mengetahui segala isi hati. (Surah Hadid: 6) Ya, Dia tahu..Dia sangat hampir... Betapa agungnya Dia yang tidak menzahirkan diriNya... Betapa agungnya Dia yang memperhatikan hati dan iman kita sama ada mampu atau tidak untuk merasakan kehadiranNya dalam setiap keputusan hati kita..Allah!

Diceritakan pada kami tentang ayat Allah dalam Surah Hadid mengenai infaq, dan kemudiannya Allah menyebut berkenaan cahaya dan kemudian menyebut kembali mengenai infaq.. Allahu Akbar! Susunan yang sangat indah...

Dan jujur ayat seterusnya adalah ayat klimaks yang membuatkan saya tertampar-tampar..

Akukah munafiq itu? Sedihnya saat kita yang pernah berprogram bersama akhirnya bertemu di akhirat di persimpangan yang berbeza.. Dan diadakan tembok.. di saat kita merayu-rayu dengan sahabat kita... Allah, usah sesekali Kau mentakdirkan hal itu berlaku...

Saya ingin menulisnya... Namun masa sangat mencemburui... Namun seorang ukhti telah menulisnya dengan hatinya...Bacalah! Betapa ayat-ayat itu sangat menggerunkan buat kita yang berada di jalan dakwah dan tarbiah!

Ini tulisan ukhti tersebut:

Da'i yang kecewa dan terluka

Sunday, July 15, 2012

Taqwa..

Meremang baca cerita ini. Ketaqwaan wanita ini sungguh mengkagumkan. Keberadaan di wad pediatrik membuatkan cerita ini lebih terkesan di hati. Berdepan dengan ukhti yang sedang menanti-nanti kehadiran cahaya mata juga membuatkan ketakjuban saya bertambah terhadap kesabaran wanita ini.

The Husband Who Was Too Shy To Look At His Wife (a moving story)

This story was recounted by Prof. Khalid Al-Jubeir, consulting cardiovascular surgeon, in one of his lectures:

Once I operated on a two and a half year old child. It was Tuesday, and on Wednesday the child was in good health. On Thursday at 11:15 am – and I’ll never forget the time because of the shock I experienced – one of the nurses informed me that the heart and breathing of the child had stopped. I hurried to the child and performed cardiac massage for 45 minutes and during that entire time the heart would not work.

Then, ALLAH decreed for the heart to resume function and we thanked HIM. I went to inform the child’s family about his condition. As you know, it is very difficult to inform the patient’s family about his condition when it’s bad. This is one of the most difficult situations a doctor is subjected to but it is necessary. So I looked for the child’s father whom I couldn’t find. Then I found his mother. I told her that the child’s cardiac arrest was due to bleeding in his throat; we don’t know the cause of this bleeding and fear that his brain is dead. So how do you think she responded? Did she cry? Did she blame me? No, nothing of the sort. Instead, she said “Alhamdulillah” (All Praise is due to ALLAH) and left me.

After 10 days, the child started moving. We thanked ALLAH and were happy that his brain condition was reasonable. After 12 days, the heart stopped again because of the same bleeding. We performed another cardiac massage for 45 minutes but this time his heart didn’t respond. I told his mother that there was no hope. So she said: “Alhamdulillah. O ALLAH, if there is good in his recovery, then cure him, O my Lord.”

With the grace of ALLAH, his heart started functioning again. He suffered six similar cardiac arrests till a trachea specialist was able to stop the bleeding and the heart started working properly. Now, three and a half months had passed and the child was recovering but did not move. Then just as he started moving, he was afflicted with a very large and strange pus-filled abscess in his head, the likes of which I had never seen. I informed his mother of the serious development. She said “Alhamdulillah” and left me.

We immediately turned him over to the surgical unit that deals with the brain and nervous system and they took over his treatment. Three weeks later, the boy recovered from this abscess but was still not moving. Two weeks pass and he suffers from a strange blood poisoning and his temperature reaches 41.2°C (106°F). I again informed his mother of the serious development and she said with patience and certainty: “Alhamdulillah. O ALLAH, if there is good in his recovery, then cure him.”

After seeing his mother who was with her child at Bed#5, I went to see another child at Bed#6. I found that child’s mother crying and screaming, “Doctor! Doctor! Do something! The boy’s temperature reached 37.6°C (99.68°F)! He’s going to die! He’s going to die!” I said with surprise, “Look at the mother of that child in Bed#5. Her child’s fever is over 41°C (106°F), yet she is patient and praises ALLAH.” So she replied: “That woman isn’t conscious and has no senses”. At that point, I remembered the great Hadith of the Prophet (Sallallaahu Alaihi Wa Sallam): “Blessed are the strangers.” Just two words… but indeed two words that shake a nation! In 23 years of hospital service, I have never seen the likes of this patient sister.

We continued to care for him. Now, six and a half months have passed and the boy finally came out of the recovery unit – not talking, not seeing, not hearing, not moving, not smiling, and with an open chest in which you can see his beating heart. The mother changed the dressing regularly and remained patient and hopeful. Do you know what happened after that? Before I inform you, what do you think are the prospects of a child who has passed through all these dangers, agonies, and diseases? And what do you expect this patient mother to do whose child is at the brink of the grave and who is unable to do anything except supplicate and beseech ALLAH? Do you know what happened two and a half months later? The boy was completely cured by the mercy of ALLAH and as a reward for this pious mother. He now races his mother with his feet as if nothing happened and he became sound and healthy as he was before.

The story doesn’t end here. This is not what moved me and brought tears to my eyes. What filled my eyes with tears is what follows:

One and a half years after the child left the hospital, one of the brothers from the Operations Unit informed me that a man, his wife and two children wanted to see me. I asked who they were and he replied that he didn’t know them. So I went to see them, and I found the parents of the same child whom I operated upon. He was now five years old and like a flower in good health – as if nothing happened to him. With them also was a four-month old newborn. I welcomed them kindly and then jokingly asked the father whether the newborn was the 13th or 14th child. He looked at me with an astonishing smile as if he pitied me. He then said, “This is the second child, and the child upon whom you operated is our first born, bestowed upon us after 17 years of infertility. And after being granted that child, he was afflicted with the conditions that you’ve seen.”

At hearing this, I couldn’t control myself and my eyes filled with tears. I then involuntarily grabbed the man by the arm, and pulling him to my room, asked him about his wife: “Who is this wife of yours who after 17 years of infertility has this much patience with all the fatal conditions that afflict her first born?! Her heart cannot be barren! It must be fertile with Imaan!”Do you know what he said? Listen carefully my dear brothers and sisters. He said, “I was married to this woman for 19 years and for all these years she has never missed the [late] night prayers except due to an authorized excuse. I have never witnessed her backbiting, gossiping, or lying. Whenever I leave home or return, she opens the door, supplicates for me, and receives me hospitably. And in everything she does, she demonstrates the utmost love, care, courtesy, and compassion.” The man completed by saying, “Indeed, doctor, because of all the noble manners and affection with which she treats me, I’m shy to lift up my eyes and look at her. So I said to him: “And the likes of her truly deserve that from you.”

The End…

ALLAH says: And We will surely test you with something of fear and hunger and a loss of wealth and lives and fruits, but give good tidings to the patient; Who, when calamity strikes them, say, “Indeed we belong to ALLAH, and indeed to HIM we will return.” Those are the ones upon whom are blessings from their Lord and mercy. And it is those who are the [rightly] guided. (Surah Al-Baqarah 155-157)

Umm Salamah (the wife of the Prophet) said: I heard the Messenger of ALLAH (Sallallaahu Alaihi Wa Sallam) saying: “There is no Muslim who is stricken by a calamity and says what ALLAH has commanded him – ‘Indeed we belong to ALLAH, and indeed to Him we will return; O ALLAH, reward me for my affliction and compensate me with that which is better’ – except that ALLAH will grant him something better in exchange.” When Abu Salamah [her former husband] passed away, I said to myself: “What Muslim is better than Abu Salamah?” I then said the words, and ALLAH gave me the Messenger of ALLAH (Sallallaahu Alaihi Wa Sallam) in exchange. (Sahih Muslim)

Wednesday, July 11, 2012

3:159..

Jujur hospital adalah medan tarbiah yang mendidik saya dalam segala segi. Di sini saya belajar erti kesakitan. Di sini saya belajar untuk mempraktikkan segala yang saya pelajari dalam dakwah dan tarbiah. Di sinilah saya mendepani segala ujian kehidupan.

Menjadi house officer, saya disakiti setiap masa sehinggakan saya terduduk seketika. Hatta sehingga saya tiada kekuatan untuk membalas mesej-mesej berkaitan D&T, pandangan saya sepi.

Setiap masa ayat Ibadurrahman menggamit hati saya.

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan." (Surah Furqan: 63)


Ayat ini seakan echo di hati sendiri, ia akan berulang. Namun saya perlu berhadapan dengan mereka setiap 5-10 minit. Di sana saya diuji dengan sebenarnya. Saya terpaksa mendengar umpatan dan cacian yang bertubi-tubi. Di marahi sesuka hati. Usahkan mendapat hak seorang Muslim, hak seorang manusia juga masih jauh untuk dipenuhi.

Semalam misalnya, saya diarahkan oleh staff nurse dalam keadaan marah untuk memberi suntikan IM neupogen. Dan saya yang perlu menyediakannya tanpa sebarang tunjuk ajar. Dos, segalanya perlu difikirkan sendiri. Setelah itu dimarahi hanya kerana tidak membawa kidney dish. Dan kemudiannya mendengar umpatan terang-terangan betapa pakar marahkan saya. Lantas saya bertanya pada seorang teman mengenai perkara yang terjadi.

Rupanya saya order heparin free untuk seorang pesakit. Dan IJC line pesakit block. Sejujurnya saya hanya mengikut arahan MO saya memandangkan keputusan heparin free adalah kerana pesakit akan menjalani pembedahan Khamis ini. Dan MO tersebut tiada (MC) untuk membela saya di saat segala kesalahan dipikulkan atas bahu saya. Saya pergi bertemu dengan pakar tersebut menerangkan segala yang terjadi, dan alhamdulillah dia menerima penjelasan saya dengan profesional. Malah mengajar saya bahawa half life untuk heparin adalah 6 jam dan tiada apa-apa permasalahan yang timbul andai pesakit pergi hemodialisis dengan heparin.

Dapat bayangkan perasaannya bila staff nurse ngumpat terang-terangan, merujuk notes kita sebagai rubbish dan bullshit?

Pagi ini saya diarahkan oleh MO untuk mendapatkan 1 unit platelet untuk pesakit. Saya sudah menyediakan borang, menelefon MO hematology. Segalanya telah saya uruskan. Dan saya dimarahi oleh staff nurse kerana telah order platelet terlebih dahulu sedangkan pesakit masih menjalani pemindahan darah packed cell. Saya cuma mengikut arahan dan beginilah seharian kehidupan saya, disakiti sesuka hati.

Saya membaca artikel bertajuk daie Islam umpama robot. Saya bersetuju dengan artikel dan pernyataan dalam artikel tersebut. Menjadi doktor dan daie, saya benar-benar robot.

Masakan tidak, sering daie Islam itu perlu memendam perasaan, lantaran jiwa dan raganya harus digunakan buat memikirkan orang lain, kudrat dan tenaganya perlu diinfak buat berkhidmat buat orang lain, waktu dan masanya harus -secara ajaibnya- dilapangkan buat memenuhi keperluan orang lain.

Mereka ini tidak boleh memikirin perasaan mereka sendiri, kerana setiap detik dan waktu, mereka harus senantiasa memikirkan nasib dan perasaan orang lain.

Bahkan, layanan orang lain terhadap mereka juga, persis umpama mereka hanyalah robot, bukannya manusia biasa yang ada perasaan, yang bisa menangisi kesedihan, yang bisa merasai kepedihan disakitkan, yang bisa luntur semangat dan keimanan. Tidak, mereka harus sempurna, dan tidak akan pernah halal untuk mereka memiliki perasaan, demikian mereka disakitkan, demikian mereka dilukai, demikian mereka dihina dan dijatuhkan.


Sampaikan saya bertanya Allah, "Ya rabb, amat sukar menjadi ibadurrahman, title hamba yang dinisbahkan dengan namaMu yang sangat agung. Mungkin sekali dua aku mampu, tapi ya rabb bagaimana untuk aku istiqamah meraih title yang agung itu?"

Di ketika yang lain, saya tertanya-tanya tentang dosa sendiri yang membuatkan saya disakiti begini.

Pagi tadi saat disakiti lagi, saya pesan pada diri - Kalau tidak disakiti seperti ini, mana mungkin saya mampu memahami ayat-ayat berkenaan Ibadurrahman itu?

Saya mendapat bahan Rabtul Am dari Sheikh Hamid dulu. Impian saya saat mula-mula bekerja adalah untuk membina sebanyak mungkin ikatan rabtul am. Namun saya gagal. 'Ala kulli hal, saya masih bermujahadah.

Saya balik, tidur dalam kesakitan. Seusai bangun dan menunaikan solat, tergerak hati untuk mentadabbur. Allah yang menggerakkan hati mencari kuliah di internet. Allah yang menggerakkan hati, dalam ribuan video di youtube untuk saya menonton video ini. Bukankah kita tahu tiada kebetulan yang berlaku dalam segala aspek kehidupan kita? Segalanya adalah sunnatullah! Terdiam! Menangis tanpa henti mentadabbur ayat ini! Dan saya masih menangis sehingga kini! Saya juga memuhasabah diri sebagai murabbi buat adik-adik saya. Terlalu banyak kepincangan yang saya lakukan..



Ya rabb, saya redha dengan semua kesakitan ini andai asbab di sebaliknya adalah untuk saya memahami kalamMu...Hati saya basah dalam limpahan kasihNya..

Moga Allah memperbaiki akhlaq saya setiap saat dan ketika...

Monday, July 09, 2012

Ayat kiblat dan syahadatul haq..

Beberapa hari ini, seakan sedih dengan jahiliah yang menusukkan peluru bertubi-tubi ke arah saya, mentertawakan saya dengan sakannya.

Berada di daycare dan wad pediatrik onkologi (kes-kes kanser) / nefrologi (kes-kes melibatkan buah pinggang) membuatkan saya hiba. Ya, saya berhadapan dengan adik-adik yang kritikal namun serasanya saya melihat jahiliah di sekeliling mereka adalah lebih mencemaskan iman.

Saat menandatangani borang-borang pemindahan darah untuk adik-adik yang menghidap thalassemia, saya melihat novel-novel jahiliah yang dibaca oleh mereka. Tulisan dan coretan kita di majalah sebenarnya adalah setitis sekiranya hendak dibandingkan dengan lautan jahiliah. Saat memasukkan kemoterapi, saya melihat koleksi CD-CD jahiliah yang dimiliki mereka. Pernah sekali semasa saya bekerja syif malam, mereka sekumpulan menonton tayangan yang cukuplah memalukan tanpa ada sekelumit rasa malu. Belum lagi kata-kata lucah terhadap kawan sendiri yang menghidap penyakit inguinal hernia.

Perit!

Kelmarin saya ke sekolah agama tempat saya membina beberapa orang adik-adik. Saya diminta untuk memberi perkongsian umum untuk adik-adik Tingkatan 4 dan 5. Lantas saya berkongsi sedikit sebanyak pengalaman kehidupan. Saya menyelitkan juga pengisian mengenai realiti ummah di luar sana. Saya ceritakan pada mereka betapa tarbiah menguatkan saya dan kemanisan hidup dalam tarbiah. Wajah-wajah yang ada ternyata memandang dengan penuh kebosanan melainkan wajah-wajah yang saya bina yang hakikatnya sangatlah sedikit dibandingkan dengan keseluruhan pelajar.

Seusai pengisian, saya berbual dengan senior mereka. Dan mereka ada malam kebudayaan. Saya duduk berbual sambil memerhatikan. Lagu-lagu yang dimainkan adalah lagu jahiliah. Joget dan menari. Nauzubillah... Terkejut sangat sebab sekolah tersebut adalah sekolah agama..

Seakan bayangan syaitan yang mentertawakan hadir. Rasa down yang amat.. Baru habis sharing, dan itulah hasilnya..

Akhlaq saya pun rapuh beberapa hari ini. Dan saya hilang semangat mahu ke hospital. Rutin yang sangat membosankan. Seakan penat yang amat. Bukan penat fizikal, serasanya roh yang ada dalam jiwa saya kepenatan.

Dan hari ini menitis air mata saya mendengar sharing brother Nouman Ali Khan (NAK) tentang ayat syahadatul haq dan ayat kiblat!

Tak mampu menulis kesemuanya.



Sangat terkesan bila dia berkongsi bahawa satu hari kelak manusia akan menjadi saksi terhadap akhlaq kita yang tidak menggambarkan kita sebagai Muslim. Dush! Semua orang akan saling memberi kesaksian terhadap kita! Dan lagi berat bila sang Rasul sendiri menjadi saksi terhadap akhlaq kita! Allah..tak sanggupnya saya menghadapi hari itu..

Dan dia ceritakan tentang kasihnya Allah pada Rasulullah SAW sehinggakan Allah mengetahui perasaan kekasihnya tanpa perlu Rasulullah SAW mengungkapkannya. Kalau begitu kasih sayang Allah, bagaimana rasanya azab yang akan ditimpakan Allah ketika sang Rasul memberi kesaksiannya terhadap kita? Allah...

Basah sangat bila brother NAK share tentang makna rauf..tentang kisah Hassan bin Thabit..dan janji Allah yang akan menjadikan Quran itu mudah bagi kita, tapi kenapa kita tak letakkan sedikit pun effort untuk mempelajarinya? Dengarlah! Dengarlah!

Saya tiada masa seperti dahulu untuk menulis walau hati saya begitu rindu untuk menulis.

'Ala kulli hal, kalau dengar sharing itu..saya dah cari ayat-ayat Quran yang brother NAK kongsikan..

Moga Allah mudahkan dan ini ayatnya:

- ayat Syahadatul Haq : Surah Al Baqarah 2: 142-143

- kisah orang Yahudi menyalahkan Jibril - Surah Al Baqarah 2: 97-98

- wasiat Nabi Ibrahim dan Nabi Yaaqub - Surah Al Baqarah 2: 131-132

- tentang Ramadhan - Surah Al Baqarah 2: 183

- ayat yang dibaca oleh Hassan bin Thabit dan Rasulullah memintanya berhenti ..Hasbuk! Hasbuk - Surah Annisa: 4: 41

- Ayat Rasullulah SAW memberikan kesaksian bahawa kita meninggalkan Quran - Surah Furqan - 25 : 30

- Janji Allah yang akan memudahkan Quran bagi kita - Surah AlQamar : 54: 17, 54: 22, 54: 32, 54: 40

- Janji Allah bahawa kita tidak akan berpecah dengan berpegang dengan tali Allah: Surah Ali Imran : 3: 103

Moga Allah memudahkan dan menguatkan kita ...

Sunday, July 01, 2012

Tak mahu!

ISK. Ini Sejarah Kita. Saya tidak pasti berapa kali hati saya akan tersentuh dengan amat setiap kali menghadirinya. Pada mujahadah itulah saya temukan kemanisan. Dalam penat itulah Allah menghadiahkan sesuatu yang menggelorakan iman. Di saat saya kebuntuan untuk meneruskan perjalanan sebagai seorang house officer, Allah memberikan sentuhannya... Walau program itu adalah untuk adik-adik, saya begitu terkesan..

Video ini katanya telah popular di kalangan mereka yang belajar di luar negara. Namun saya baru menontonnya hari ini. Sangat tersentuh! Inspiring! Dan saya rasa begitu tersentap saat buku tersebut ditutup. Handphone saya, dunia hospital saya, kereta saya, segalanya yang dekat dengan saya adalah Islam. Segalanya... Saya tidak mahu buku itu ditutup! Saya tidak mahu! Hati saya seakan menjerit saat buku tersebut ditutup.

Ya, mungkin buku tersebut ditutup. Tapi kita dah berjanji untuk membukanya semula, kan?

Thursday, June 28, 2012

Parenting...

Artikel yang best!

Raising Children with Deen and Dunya

I have seen with my own eyes children under the age of ten who willingly set their own alarms to get up for Tahajjud prayer. I have hosted a young soccer marvel goal in my home who begins his day before mine by reciting Quran at Fajr. I know of an Ivy League university student who insisted on turning the car around because she realized she had left home without giving her mother salaams (farewell wishes). I have been acquainted with doctors who make more money in a single month than most people make in a single year yet choose to live in small homes with no mortgages so that their salaries can be spent supporting scholars of Islam. My husband and I work with a young man who once flew with his mother from California to Jordan, then turned around and returned on the next flight home — all of this so that his single mother didn’t have to travel across the world alone. I have witnessed fourth graders who were able to sit quietly with impeccable etiquette in front of Muslim scholars while the adults around them stretched, yawned, and sighed. I have heard children silence their young friends with urgent reminders, “Don’t say that about him! It’s backbiting!”

Saturday, June 23, 2012

Secure..

Saya rasakan rindu yang amat pada ex-naqibah. Serasanya mahu berlari untuk bertemunya. Hampir lima tahun dia membina saya. Bertahan dengan karenah saya sebagai mutarabbi. Saat-saat diuji dengan mutarabbi, saya rasakan rindu untuk mendengar nasihatnya. Teringin untuk bertanya, bagaimana dia telah mendidik saya? Satu perkara yang begitu saya kagumi tentangnya adalah berkenaan dengan kerahsiaan. Dia benar-benar menjaga rahsia mutarabbinya. Saya rasakan betapa securenya saya ketika itu. Saat peningkatan mutarabbi, dia akan beristikharah. Benar, segalanya adalah berkenaan dengan hubungan kita dengan Allah.

Membawa dakwah di sekolah, saya rasakan bahagia yang amat. Ya, membina dari mula. Bukan membawa hasil usaha manusia lain. Pernah saya menitiskan air mata saat adik-adik tersebut menyudahi hafalan mereka dan mereka bertanya," Akak sedih sebab kami tak hafal banyak lagi ye?" Allah.. Komitmen mereka sangat besar terhadap usrah. Baru di tingkatan 3 dan 4, tetapi mengubat segala kesakitan saya dalam kehidupan saya sendiri. Jujur mereka adalah kurrata a'yun bagi saya. Sepertinya seakan perasaan Asiah saat menatap bayi yang bernama Musa, hilanglah segala kesakitannya.

Ya, mana mungkin membina manusia tanpa tiada sebarang permasalahan. Di situlah ujian Allah saat membawa adik-adik IPT. Merasai bagaimana terlibat secara tidak langsung dalam urusan baitul muslim mereka, mendengar luahan hati mereka yang benar-benar mengejutkan saya. Mendengar permasalahan adik-adik yang keluar dari RI. Allah..di situ saya diuji … Saya rasakan saya benar-benar tidak layak menjadi murabbi buat mereka… Kata ustaz, iman yang menyala akan menghidupkan pokok-pokok dakwah , mampu mengalirkan iman itu sehingga lahir berjalur-jalur pokok dakwah. Sepertinya Assyahid Imam Hassan Al Banna. Berjuta-juta manusia merasai getaran imannya hatta sehingga hari ini.

Menatap peta dakwah, serasanya air mata terus mengalir… Aku yang masih belum kuat… Segalanya yang dilakukan oleh mutarabbiku kini seakan menjadi refleksi terhadap diriku sendiri… Dan benarlah hidup ini benar-benar mujahadah…

Kata makcik, kalau kata tak layak hatta di mana-mana zaman dan peringkat, kita merasai betapa tidak layaknya kita…

Dan saya merindui ex-naqibah saya yang akan mengingatkan saya untuk mengembalikan segala permasalahan saya pada Allah…

Sunday, June 10, 2012

Anak sulung...

Teringat saat saya menonton rancangan Semanis Kurma - Kahwin atau Belajar, saat itu saya katakan pada mak - "Frustnya tengok isteri Ustaz Zambri". Semuanya lantaran akhlaqnya yang begitu mempersona. Menundukkan pandangan dan kesopanan yang lahir dari iman dan tidak dibuat-buat.

Begitulah saat berkenalan dengan ukhti H. Akhlaqnya juga membutkan saya merasakan betapa tidak sempurnanya saya. Dengan zuriat yang ramai (tujuh atau lapan - saya terlupa!) dan juga berkerja sebagai guru, dia masih aktif membawa usrah adik-adik penggerak.

Saya teringat dalam satu daurah adik-adik, saya bertanyakannya soalan, "Bagaimana akak dapat istiqamah di atas jalan dakwah dengan kepadatan masa sebagai ibu, isteri dan juga sebagai wanita berkerjaya?"

Mutiara yang dikongsikan beliau sangat banyak. Teringat satu jawapannya juga mengenai betapa bermaknanya pembentukan anak sulung di dalam keluarga. Sekiranya anak sulung menjadi, mudahlah segalanya. Anak sulung tersebut akan menjaga adik yang kedua, kedua menjaga yang ketiga dan seterusnya. (Terasa saya sebagai anak sulung!) Dan saya pasti anak sulung beliau merupakan salah satu di antara kekuatannya di atas jalan dakwah.

Dan ketika saya oncall dua hari yang lepas, saya menerima dua mesej mengkhabarkan pemergian anak sulung beliau yang lemas dalam satu program jemaah. Masya Allah! Menitis air mata saya membaca mesej tersebut. Jujur dialog saya bersamanya seakan baru semalam berlalu.

Membaca email-email ikhwah akhawat yang lain berkenaan dengan pemergian allahyarham juga menimbulkan sebak. Semasa Dr Har menghubungi Ukhti H, katanya dia sememangnya mendoakan anaknya menjadi mujahid! Alangkah beruntungnya ukhti H yang dikurniakan anak yang syahid dalam program tarbiah!

Moga Allah mengurniakan ketabahan luar biasa buat ukhti H sekeluarga.

Friday, June 01, 2012

Jawapan..

Adik usrah saya mesej di Facebook. Katanya, ustaz kata housemanship adalah tempat membunuh manusia terutamanya daie. Huhu.. Saya pernah berbual dengan seorang pakcik. Kata pakcik, seorang sahabatnya memberitahu bahawa tidak muntij (berhasil) membawa usrah doktor. Lebih baik fokus pada yang lain..

Terasa! Tapi itulah kejujuran. Saya sendiri tidak membawa usrah di hospital. Lebih sanggup mencari adik-adik sekolah / IPT. Saya juga meyakini bahawa membawa usrah kakitangan hospital sangat tidak muntij..huhu..

Doktor-doktor yang mampu dibentuk adalah mereka yang pernah menerima tarbiah semenjak di alam IPT.. Dan sebenarnya sangat rugilah kalau kita tidak memperhatikan IPT.. Itupun, sehari demi sehari kita kehilangan doktor-doktor yang pernah menerima tarbiah lantaran kesibukan yang luar biasa. Sedih!

Dan jalan dakwah bukan boleh ditinggalkan sehari dua. Tunggulah dulu habis housemanship. Tunggulah dulu ada kereta. Tidak! Tidak! Tertinggal dua minggu sahaja pun, jalan ini seakan 'merajuk'. Macam Quran dan mutabaah amal lainnya. Tertinggal sekali dua, 'merajuk'lah jawabnya... Nak 'memujuk' semula memakan masa lamanya..

Saya masih bermujahadah meniti hari-hari di hospital. Tagging di wad pediatrik juga ternyata memenatkan. Saya perlukan roh, stamina bagi hati saya. Saya rindukan adik-adik IPT/ sekolah yang sedang bercuti. Silalah balik cepat! Usrah sendiri? Oncall .. alahai sedihnya..

Saya kongsikan realiti tagging seperti yang diceritakan oleh seorang sahabat:

i still amazed at how our body can function non stop for 15 hours a day (running, standing, walking, climbing stairs, writing, without even sit or rest in between) non stop for days, even weeks or month, but at the end of the day.. when the clock shows 10pm and we go out from our precious learning and practicing center.. all the limbs start to feel pain, the eyes can't even bare to open, and we don't even care about anything in this world except our wonderful sleep and rest.. and we start the next day with an extremely painful limbs early in the morning but able to run again at the moment we step inside the learning ground again.. wow..

Lebih menyedihkan Ramadhan saya kelak di NICU. Saya sudah menangis memikirkan hal itu.. Masuk NICU kelak akan tagging lagi. Ya rabb, bagaimana mutabaah amalku? Bagaimana Ramadhan ku? Dan saya tertanya-tanya..kenapa ya Rabb, Kau tidak mentakdirkan aku di posting yang sedikit relaks untuk aku melalui Ramadhanku? Jujurnya saya meminta Allah memberikan yang terbaik dalam semua aspek kehidupan saya, dan tidak memberikan sesuatu hanya kerana ianya kehendak saya. Dan pasti Dia telah mentakdirkan yang terbaik!

Dan dalam semua kepenatan inilah Allah menjawab satu persatu persoalan itu.. Saya temukan jawapan-jawapan itu di blog Salim A Fillah. Saya tidak mampu melunasi tulisan-tulisannya. Hati saya menangis dan terus menangis. Terasa kasih sayang Allah yang sangat luar biasa. Memang benar! Allah hanya menjanjikan yang terbaik untuk hambaNya..

Sumpah Ramadhan kali ini akan menjadi super best buat saya! Ya Rabb, itulah harapan saya.

Jawapannya ada dalam tulisannya Ektase Mi'raj. Dan beberapa tulisan terawalnya menjawab semua soalan-soalan saya.

Air mata tak tertahan-tahan lagi. Allah sangat menyayangi hambaNya!

Blog Salim A Fillah

Saturday, May 19, 2012

Alhamdulillah...

Alhamdulillah, alhamdulillah thummalhamdulillah... Dua hari yang lepas, saya telah berjaya dalam assessment saya di dalam posting obstetrik dan ginekologi. Hanya Allah yang mengetahui betapa gembiranya saya tika itu. Barangkali kegembiraan tersebut kerana saya merasakan kesukaran yang amat sepanjang posting tersebut.

Saya berjanji pada Allah untuk memaafkan setiap insan yang melukai saya sepanjang posting tersebut. Dan saya akan melangkah lagi...

Saya terhutang budi pada Dato', ketua jabatan saya kerana banyak mengajar saya. Jujurnya terlalu banyak yang saya pelajari sepanjang berada di stesennya, patient admission centre (PAC). Terima kasih Dato' kerana memberi saya seorang consultant yang baik untuk assessment saya. Jujur segalanya dari Allah.

Jutaan hikmah yang saya kutip sepanjang posting ini. Masih teringat tagging yang sangat mengerikan. Teringat saat Allah mengajar saya begitu banyak perkara dalam posting ini. Allah yang memberikan saya segalanya. Allah jualah yang membantu saya sehingga logbook saya penuh. Memang terasa sangat segala ilmu dan segala nikmat itu datangnya hanya dari Allah.

Saya masih merasakan bahawa lulus dalam posting ini adalah keajaiban. Hanya Allah yang mengetahui perasaan tersebut. Di dalam posting inilah saya pernah menangis kerana sedih dan dalam perjalanan pulang tersebut saya bertemu dengan naqibah saya. Terkadang begitu ingin menuliskan segalanya, namun saya kira biarlah kepahitan itu saya simpan sahaja. Dan jujurnya juga, saya merasakan dakwah dan tarbiahlah yang menguatkan saya sepanjang posting ini. Dakwah dan tarbiah seakan oasis di tengah-tengah sahara...

Terima kasih Allah atas nikmat ini...


Monday, April 30, 2012

Forgive me..


I’m about to lose the battle and cross the line
I’m about to make another mistake
And even though I try to stay away
Everything around me keeps dragging me in
I can’t help thinking to myself
What if my time would end today, today, today?
Can I guarantee that I will get another chance
Before it’s too late, too late, too late

Forgive me… My heart is so full of regret
Forgive me… Now is the right time for me to repent, repent, repent..

Am I out of my mind?
What did I do? Oh, I feel so bad!
And every time I try to start all over again
My shame comes back to haunt me
I’m trying hard to walk away
But temptation is surrounding me, surrounding me
I wish that I could find the strength to change my life
Before it’s too late, too late, too late

Forgive me… My heart is so full of regret
Forgive me… Now is the right time for me to repent, repent, repent..

I know O Allah You’re the Most-Forgiving
And that You’ve promised to
Always be there when I call upon You
So now I’m standing here
Ashamed of all the mistakes I’ve committed
Please don’t turn me away
And hear my prayer when I ask You to…

Forgive me… My heart is so full of regret
Forgive me… Now is the right time for me to repent, repent, repent..

Saturday, April 21, 2012

Tazkirah...

Malam tadi selepas saya melihat beberapa pesakit, saya teringatkan Makcik Napisah. Pagi semalam saya baru menziarahinya seusai waktu bekerja. Pakcik (suami makcik Napisah) ada memberitahu beberapa perkara mengenai perkembangan makcik. Cuma pada sebelah malam, saya berkesempatan untuk meneliti rekod perubatan makcik. Berada di hospital IT, Allah memudahkan urusan itu bagi saya. Saya tersentak seketika. Jam menunjukkan 12.20 pagi. Makcik telah disahkan meninggal pada pukul 11.30 malam. Allahu Akbar! Allah jualah yang menggerakkan hati saya untuk meneliti rekod perubatan tersebut.

Sesudah menyudahi urusan saya dengan beberapa pesakit, saya meminta izin seorang teman untuk pergi menziarahi makcik. Alhamdulillah jenazah belum ditolak ke bilik mayat. Pakcik tiada di sisinya. Allah memberi kesempatan untuk duduk sebentar di sisi jenazah. Saya teringatkan kata-kata seorang sahabat saat saya meminta nasihat darinya. "Cukuplah kematian sebagai nasihat". Air mata saya menitis laju. Dzuq terasa. Kenangan bersama makcik hadir di benak minda saya.

Saya baru sahaja di bumi Johor. Saya tidak mengenali sepenuhnya akhawat di sini terutamanya di kalangan makcik-makcik. Nama makcik sering disebut oleh naqibah saya yang merupakan seorang doktor. Allah menganugerahi makcik dengan penyakit kanser peparu (lung adenocarcinoma).

Ya, penyakit itu anugerah. Di saat Allah menceritakan perihal semua nabi berkenaan dakwah, Allah membawakan kisah Nabi Ayub dengan ujiannya. Saat mentadabbur kisah nabi Ayub, saya rasakan Allah begitu mengiktiraf kesakitan. Ujian yang hebat untuk manusia yang hebat.

Teringat saat membaca catatan Ustazah Amani mengenai pemergian ayahnya, Ustaz Dahlan, "Terngiang di telinga kata-kata seorang teman rapat abah dari KL semalam yang datang menziarahi abah.. ramai orang yang berjuang untuk Islam diuji dengan sakit kuat. Kita lihat sebagai ujian Allah, sebenarnya ia pilihan Allah kerana Allah kasih.., kesakitan itu kafarah , pembersih dosa-dosa. Orang yang dikasihi Allah ini.. dalam hidupnya sering berhadapan dengan sakit, bila sembuh.. dia bangun berjuang kembali, seolah Allah membersih dosa-dosa terdahulu. Kata teman abah lagi, kalaupun ia suatu penamat...Allah bersihkan dosa-dosanya sebelum kembali padaNya. Ya Allah..kata-kata teman abah cukup berbekas di hatiku."

Ya, kanser peparu yang dihidapi Makcik Napisah benar-benar bukti kasih sayang Allah buatnya.

Saya pernah melihatnya saat dia mampu berbicara. Saya juga pernah melihatnya saat kansernya telah merebak ke bahagian otak, yang mana keadaan fizikalnya seperti mereka yang menghadapi strok. Dan saya masih ingat kenangan saat dalam lemahnya fizikalnya, dia memegang tangan saya. Saya sungguh terkilan kerana tidak mampu lama ketika itu. Telefon saya berbunyi. Jururawat memanggil saya ke wad semula.

Jujur saya belajar banyak perkara dari keluarga makcik Napisah. Saya belajar dari Amal, anaknya mengenai tanggungjawab seorang anak. Saya lihat Amal membersihkan ibunya. Saya lebih sebak, sedang mereka sekeluarga begitu tenang menghadapi segalanya. Kata pakcik, penerimaan mereka sekeluarga sangat baik kerana mereka ditarbiah.

Makcik adalah Ketua Wanita Ikram Kulaijaya. Ya, dia meninggal di saat kemuncak kehidupannya. Begitulah makna Surah Annasr, saat sahabat-sahabat memahami isyarat bahawa Rasulullah SAW akan pergi kerana dakwah sudah di kemuncaknya. Betapa beruntungnya makcik kerana pergi pada puncak kehidupannya.

3 minggu yang lepas, saya menghadiri mukhayyam penggerak. Lebih 140 peserta yang hadir. Perkara pertama tentang mukhayyam yang menyentuh hati saya adalah ketika solat hajat mendoakan yang terbaik untuk Makcik Napisah. Kalau saya sakit, saya tidak pasti siapa yang akan mendoakan saya. Saya sangat mengkagumi dirinya. Betapa ramai yang mendoakannya.

Ramai yang datang menziarahinya di hospital. Ex-naqibah saya dari Putrajaya juga datang menziarahinya. Kata ex-naqibah saya, makcik banyak berjuang untuk rangkaian tadika Amal yang merupakan tadika Islam dan begitu banyak lagi sumbangan makcik pada dakwah ini.

Saat menziarahi makcik, banyak mutiara nasihat yang diberikan pakcik. Kita manusia perlu berbuat sebaiknya dengan hayat yang Allah berikan kerana satu masa nanti servis kita juga akan tamat. Bgitulah hakikat kehidupan yang singkat ini. Kata pakcik, melihat mereka yang sakit adalah tazkirah buat kita yang masih hidup.

Semalam saat mengucapkan takziah pada pakcik, pakcik katakan dia tidak menyesal sedikit pun. Mereka sempat saling bermaafan sebelum makcik pergi dan berbual mengenai suka duka perjuangan mereka. Masya Allah! Pengakhiran yang sangat baik pastinya. Jannah pasti buat makcik kerana suami meredhai. Moga Allah mengurniakan syurgaNya yang tertinggi buat makcik. Mudah-mudahan perjuangan makcik membangkitkan himmahnya buat kita juga.

Artikel lain berkenaan makcik:

Ukhti Napisah dalam kenangan

A mother to all

Saturday, April 14, 2012

Damai...

Hujung minggu yang lepas, Allah memberi kelapangan untuk menjadi facilitator mukhayyam. Peluang yang sangat besar pastinya. Saya bersama dua orang akhawat menaiki kereta bersama. Dan kami sampai di checkpoint yang pertama, Zenxin Organic Park, Kluang. Jujurnya seandainya saya tidak bersama tarbiah, saya pasti tidak akan mengenali tempat sebegitu. Segala puji bagi Allah yang mengurniakan segalanya buat saya. Semalam pakcik kata, kerja dakwah kita terlalu kecil sekiranya hendak dibandingkan dengan iman yang Allah tancapkan dalam hati kita! Allah..

Apabila sampai di Zenxin Agro Park, kami menghirup udara segar yang begitu menghidupkan hati kami. Kami sempat merasa ais krim buah naga.

kalau nikmat dunia dah sebegini, camne lah syurga itu? layakkah diri ini?

Allah mengurniakan rezekinya untuk hidup bersama akhawat. Seorang ukhti mengeluarkan AlQurannya dan mentadabbur ayat-ayat Allah. Best sangat! Saya tidak dapat semua itu semasa di hospital. Saya begitu 'terseksa' di hospital. Jabatan tempat saya bekerja kini dipenuhi oleh senior-senior yang 'muslim'. Namun saya tidak merasai Islam. Tarbiahlah yang menghilangkan segala kesakitan di hospital. Best kan bila awak hidup dengan manusia-manusia yang mengingati Allah setiap masa. Best kan kalau semua orang kat dunia ini faham dakwah dan tarbiah!

Di sekeliling kami, ada kebun yang mendamaikan. Dan ukhti tersebut mentadabbur ayat 31-32 Surah Annaba'.

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa, disediakan Syurga tempat mereka beroleh apa yang mereka ingini. (Mereka akan beroleh) taman-taman bunga dan kebun-kebun buah-buahan, terutama anggur; (Surah Annaba': 31-32)


Kenapa Allah kurniakan kebun dan taman bunga untuk orang yang bertaqwa? Kenapa Allah kurniakan anggur?

Kata ukhti tersebut, selalunya daie ini tidak sempat pun nak menghias rumahnya. Diceritakan pada kami kisah seorang akh di Indonesia yang mempunyai tanah kosong di hadapan rumahnya, yang tidak pernah diusahakannya lantaran sibuk dengan dakwah dan tarbiah. Sehinggakan ada usrahnya yang perlu dibawa sebelum waktu subuh lagi. Disebabkan daie sangat sibuk dengan dakwah dan tarbiahnya, Allah akan mengurniakan kebun bunga yang indah buatnya kelak di syurga.

Kenapa anggur? Kenapa ada buah di syurga? Sebabnya selalunya orang yang beli buah itu sebab dia ada duit yang lebih. Kita dah beli beras dan lain-lain, kalau ada duit lebih baru kita beli buah kan? Disebabkan daie ini, duitnya banyak dihabiskan untuk dakwah dan tarbiah, dia tak dapat nak beli buah di dunia. Sebab itulah, Allah berikan dia buah di syurga. Masya Allah! Sangat jauh kan amal kita? Layakkah kita untuk menikmati kebun dan buah yang Allah sediakan di syurgaNya kelak?

Semasa usrah sebelum ini, seorang ukhti mentadabbur kembali surah Dhuha. Menitis air mata saya. Saya rasakan gambaran Assyahid Syed Qutb mengenai surah Dhuha adalah sama dengan perasaan saya terhadap tarbiah.
Pokok pembicaraan surah ini, pengungkapannya dan pemandangan- pemandangannya, bayangan-bayangan dan nada-nada pernyataannya merupakan suatu sentuhan kasih mesra, suatu hembusan rasa sayang, suatu belaian tangan yang belas kasihan yang menghilangkan sakit derita, suatu tiupan bayu yang membawa kerehatan, kerelaan dan harapan di samping mencurahkan rasa ketenteraman dan keyakinan. Semuanya itu adalah dituju kepada Rasulullah s.a.w. untuk menghibur dan mententeramkan hatinya. Semuanya itu merupakan tiupan bayu rahmat, bisikan kasih, perdampingan yang mesra, timangan-timangan kepada jiwa yang lesu, fikiran yang gelabah dan hati yang menderita.

Penerimaan wahyu, pertemuan dengan Jibril dan perhubungan dengan Allah, merupakan bekalan-bekalan kepada Rasulullah dalam mengharungi jalan da’wah yang sukar, merupakan air minum di panas yang terik dalam menghadapi keingkaran. Dan merupakan angin sepoi bahasa dalam cuaca panas menghadapi pendustaan kaum Musyrikin. Dengan inilah Rasulullah s.a.w. dapat hidup dalam panas terik yang membakar yang dialami beliau ketika menghadapi manusia-manusia yang liar, penderhaka dan degil, dan ketika menghadapi tipu daya, gangguan dan penindasan yang ditimpakan ke atas da’wah, keimanan dan hidayat oleh pelampau-pelampau kaum Musyrikin.

Apabila wahyu terputus seketika, maka putuslah bekalannya, keringlah matairnya dan sepilah hatinya dari kekasih, dan tinggallah beliau seorang diri di tengah panas terik tanpa bekalan, tanpa air dan tanpa bau kekasih tercinta yang biasa dini’matinya. Dan ini menjadikan Rasulullah s.a.w. begitu sengsara menanggungnya dari segala sudut. Ketika itulah turunnya surah ini membawa kasih mesra, rahmat, perdampingan, kerelaan, ketenteraman dan keyakinan.
Moga Allah tidak menghilangkan kita dari jalan dakwah dan tarbiah ini selamanya..

Sunday, April 01, 2012

GMJ..


Allah yang merezekikan saya untuk hadir ke perhimpunan Global March to Jerusalem (GMJ) yang berlangsung di Shah Alam semalam. Allah yang mentakdirkan cuti, Allah yang mentakdirkan segala-galanya. Jujur program semalam umpama salju dalam menghadapi sahara kehidupan. Semangat dan auranya masih terasa sehinggi kini. Program semalam adalah ubat untuk melalui kesakitan.

Jujurnya semasa kita di bangku sekolah, terlalu banyak program motivasi yang kita hadiri. Namun motivasi itu cuma bertahan sehari dua. Namun Islam dan Palestina memberi motivasi yang sungguh luar biasa. Sangat kagum dengan ucapan brother Ooi semalam. Sentakan hebat dari seorang bukan muslim untuk muslim seperti saya. Saya rasa setiap muslim yang masih menikmati McD dan barangan boikot lain perlu meludah dirinya sendiri setelah mendengar ucapan brother Ooi. Dia yang bukan muslim lebih baik pemahamannya berbanding kita.

Saya juga sangat kagum dengan persembahan Flash Mob semalam. Mereka terus bangkit dan bangkit. Mesejnya sangat dalam. Saya berharap dapat menukilkan satu tulisan hati mengenai Flash Mob semalam. Moga Allah mempermudahkan..